Jaket Kuning

Anak – anak mu bukanlah anak – anakmu. Mereka adalah anak – anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka dilahirkan melalui engkau tetapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tetapi mereka bukan milikmu . Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri.

Engkau bisa merumahkan tubuh – tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Karena  jiwa – jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tetapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkau adalah busur tempat  anakmu menjadi anak – anak panah yang hidup diluncurkan. Sang pemanah telah membidik arah keabadian  dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya  sehingga  anak – anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. Sebab ketika ia mencintai anak – anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan penuh kekuatan – Khairil Gibran

 

Ayah, setiap putrimu adalah anak – anak panah kehidupan. Tidak terkecuali bungsu yang padanya engkau titipkan seluruh harapanmu yang belum bisa kami penuhi sebagai pendahulu. Ia berpendirian teguh melebihi kami, kita semua sangat memahami. Ia melesat jauh, melewati titik pencapaian yang pernah kami raih. Maka ketika arah nya tidak seperti yang engkau ingini, tetaplah ia anak panah mu yang melesat paling jauh.

Koper ku bahkan belum sempat kita buka, masih bau bandara. Di depan televisi dua puluh satu inch yang mengabarkan akan ada tiga ribu murid sekolah menengah umum yang lolos melalui jalur undangan, menduduki bangku kuliah mereka  tanpa tes. Putri bungsu mu berjalan pelan dari kamar bergumam “Adik lulus undangan UI”. Aku histeris, ibu menangis dan engkau ada kecewa tersirat di raut wajah.

Ayah, kami mencoba memahami bahwa kekhawatiranmu adalah kecintaanmu terhadap bungsu. Keinginanmu agar anak panah terakhirmu melesat searah dengan kami, anak – anak panah mu sebelumnya karena engkau melihat keberhasilan pada kami. Tetapi ia, memiliki arah sendiri. Arah yang dapat kupastikan seijin Tuhan tetap akan membawa engkau pada kebanggaan, bahkan jauh melebihi kebanggaanmu pada kami.

Bukankah tanpa sepengetahuan kita awalnya telah juga ia kirimkan undangan mimpimu menuju akuntansi universitas padjajaran, sebuah pengorbanan besar atas mimpinya yang mengarah ilmu komputer universitas indonesia hanya untuk membuat engkau bahagia. Kemudian ia menyerahkan pada Tuhan yang akan memilihkan  masa depan.

Jika sore hari itu, sore yang sama dengan kepulanganku ke rumah. Sang pemanah melesatkan anak panah terakhir mu bukan menuju mimpimu. Maka lepaskanlah anak panah terakhirmu dengan penuh kekuatan ayah, agar ia melesat jauh. Seperti ketika engkau melepaskan kami dahulu.

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply

AD