Kita Tidak Sedang Terlambat
Kita seperti dua orang asing yang duduk dalam satu ruang tunggu yang sama dengan tujuan penerbangan yang berbeda. Aku memang tidak begitu peduli keadaan sekitar. Maka ketika anggap saja ketidaksengajaan membuat takdir kita saling bersinggungan. Aku bahkan tidak merespon mu dengan baik.
Seperti dua buah himpunan yang saling beririsan, itu kita. Ada bagian kecil yang terkait dari masing masing. Bagian sederhana yang justru merumitkan kehidupan atau mungkin sebaliknya, bagian rumit yang menyederhanakan.
Pernah di sebuah taman siang hari, seorang pembaca oracle card menterjemahkan kartu kartu pilihan ku. Laki laki bertubuh besar itu bilang bahwa kamu akan datang dari sebuah tempat yang jauh. Mungkin saja yang dikatannya itu benar.
Kukatakan padamu bahwa aku tidak sedang tergesa gesa, kita tidak sedang terlambat menuju sesuatu. Maka aku tidak keberatan jika harus menunggu. Lagipula kita masih bisa melakukan banyak hal.
Aku mungkin akan berburu online Haruki Murakami atau Neil Gaiman kemudian menghabiskan banyak malam tenggelam di dalam mereka, juga belajar memegang DSLR dengan benar dari seorang teman yang mengerti photograph. Memakan lebih banyak pir jambu berkulit merah sembari berbicara dengan mu lewat selular atau mendengarkan lady antebellum berulang ulang sampai tertidur – bukan lagi need you now aku sudah mengganti lagu pengantar tidur ku menjadi just a kiss.
Dan kamu, kamu mungkin akan entahlah. Aku belum sempat menanyakan ini padamu.
Tapi katakanlah begini aku terbangun di sebuah dini hari kemudian mengerjap kan mata beberapa kali mengumpulkan seluruh kesadaranku. Lalu seperti yang pernah ditulis @beradadisini aku melukis kamu dalam rekaan benak ku. Aku memang belum memberitahumu hal ini tapi satu satu nya yang mampu kulukiskan adalah kamu, deck kapal, angin, dan gurita. Pada dini hari itu aku terkikik geli, kenapa gurita ?.
Di lain pagi saat kesadaranku tak datang terlalu dini, aku melukis kamu sekali lagi : kamu, kursi bus yang menemanimu ber jam jam, dan hutan pinus. Sebuah perjalanan melelahkan untuk menyusutkan jarak. Aku juga telah melukis kamu dalam keputusasaan lewat gelap malam : kamu, jurang curam, dan badan bus yang terburai. Kemudian bertekad tidak akan melukis mu lagi, ternyata salah. Disebuah pagi kamu membuatku kembali melukis kamu : kamu, dompet yang terjatuh dalam perjalanan, sejumlah uang, dan ibu kota Kalimantan barat.
Kemudian aku semakin sering melukis kamu : kamu, penerbangan pertama menuju soetta, pasar minggu, sekotak coklat, warung makan pinggir jalan, salon motor, macbook empat belas inch, kijang second yang tidak jadi kamu beli karena bau, secangkir jamu, dan rental mobil seorang teman dimana kamu malah membeli mobil sewaan yang tentu saja tetap kijang.
Menyenangkan melukis kamu.
hanya kamu, bukan kita – karena kita rasanya terlalu dini









bagus…. #eeaaa,, gada kata2 lain,,,
tidak sedang terlambat, jadi ngga usah buru-buru
keren git…
weleh,,, temen q ini menuliskan kata2 yang tersirat, good job yaw,,,, kerenz
Seeedddebbbb….heheee..
[...] QUEENman [...]