Verbal Abuse

Saya memang bukan tipikal perempuan ekspresif yang bisa selalu bebas mengekspresikan perasaan seketika di depan umum. Sekali dua saya berjingkrak jingkrak karena kabar bahagia, sekali dua saya terkikik dengan wajah bersemu karena gembira, dan sekali dua saya menangis memeluk bantal hingga emosi menghilang. Sekali dua itu seringnya saya lakukan di dalam kamar.

gambar dicaplok dari http://dynorock.files.wordpress.com/2011/05/yourfault.jpg

Seperti jumat sore kemarin, ketika emosi saya sudah sampai pada batasan maksimumnya. Saya terburu buru memutar kunci kamar, melepas seragam kemudian menangis ditemani bantal.

Hal sepele, remeh temeh kehidupan, kerikil pekerjaan, masalah gampang yang mungkin tidak dikategorikan sebagai masalah bagi beberapa manusia, karena mereka terbiasa. Hanya saja bagi saya, mungkin saya memang belum dewasa. Di usia saya yang tidak lama lagi akan dua puluh empat, diperlakukan kasar secara verbal, being humaliating on public bukan lah sebuah slide kehidupan yang pernah saya alami sebelumnya.

si iklan bilang kesan pertama begitu menggoda, seperti cinta pertama yang tidak pernah terlupa atau malam pertama yang entah bagaimana – saya belum pernah rasain ahahahaha

begitu juga makian pertama, terlebih jika tidak seharusnya kita yang menjadi korban cacian. huanjriiiiiiiiiit memang. Sore itu setelah merasa lega,saya kembali menangis karena merasa kasihan, pada dia yang memang sudah begitu terkenal dengan bad tempered nan emosional. Tipikal Hitler di tahun duaribusebelas, ihihi. Parah juga payah 

Mungkin Tuhan sedang marah saat menciptakan dia, atau saat itu Tuhan sedang kehabisan stock rasa kasih dan sayang. hanya menitipkan sedikit sekali kecerdasan emosional. ah iya, jadi ingat yang dibilang ibu : bahwa teko hanya akan mengeluarkan isinya. diisi kopi ya hitam, diisi air ya putih. sebagaimana hati mu, begitulah perkataan mu. tidak akan pernah bisa tertutupi.

Saya hanya bisa kirim doa, semoga Tuhan melakukan reparasi pada segumpal darah yang disebut hati di tubuh dia.

Dari sebuah café di hari minggu

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

8 Responses to “Verbal Abuse”

  1. Kakaakin KakaakinNo Gravatar says:

    Haiyah…
    Tentang boss nih??
    Sabar ya… :)

  2. giewahyudi giewahyudiNo Gravatar says:

    Katanya bantal memang tempat semua emosi bisa reda..

  3. clothdiapers popok kain murah clothdiapers popok kain murahNo Gravatar says:

    sabar mbak ….
    semua itu ada hikmahnya …
    salam kenal :)

  4. putrimeneng putrimenengNo Gravatar says:

    kuwini … kenapa seperti de javu yaa sama kejadian yang menimpa saya sendiri :(

    semangat yaa sabar … semoga isi teko yang ada pada kita tak sepekat dan sepahit kopi *peluk-peluk kuwini*

  5. afni rustam afni rustamNo Gravatar says:

    orang pemarah itu dangkal ilmunya… ngutip dari kata si pak bosky :)

    sabarr suburrr

  6. @nonaedda @nonaeddaNo Gravatar says:

    amiin,, sabar ajaa queen,, ntar jg reda emosi nya
    ehehhe
    lama ga mampir nih :D

  7. Dhani DhaniNo Gravatar says:

    hhmm.. kita ambil hikmah nya aja, semoga kedepan nya menjadi lebih baik lagi :)

    oot : dari Lampung ya? waahhh.. sama. ckckc.. kesana-sini nyari blogger dari lampung yg masih aktif gak ketemu-2, akhir nya ketemu juga hehe.. senang nya.
    saya juga dari Lampung salam kenal?

  8. zulhaq zulhaqNo Gravatar says:

    hmmmm…..dasar pemarah! :P

Leave a Reply

AD